Tampilkan postingan dengan label Asal Muasal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal Muasal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 April 2013

Sejarah Kota Samarinda


Sejarah Kota Samarinda tidak lepas dari peranan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, rombongan orang-orang Bugis Wajo, serta penjajah Belanda dan Jepang.

Wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara
Kerajaan Kutai Ing Martadipura berdiri pada abad ke-4 sampai dengan abad ke-17 Masehi dan berpusat di Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Kerajaan Kutai Kartanegara yang berdiri tahun 1300 sampai dengan tahun 1959 mengalami dua kali perpindahan pusat pemerintahan. Pusat pemerintahan tahun 1735-1959 tidak disebutkan dalam cerita. Tahun 1300-1734 berpusat di Kutai Lama atau Tepian Batu. Raja pertama bernama Aji Batara Agung Dewa Sakti dan permaisurinya bernama Putri Karang Melenu.

Pada waktu itu, wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara meliputi daerah yang luas, mulai daerah pantai, daerah kiri kanan Sungai Mahakam, sampai batas wilayah Muara Kaman ke udik. Daerah itu merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai Ing Martadipura sampai masa runtuh kerajaan itu pada abad ke-17.

Wilayah Samarinda termasuk pula ke dalam wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara. Akan tetapi saat itu, belum ada sebuah desa pun berdiri, apalagi kota. Sampai pertengahan abad ke-17, wilayah Samarinda merupakan lahan persawahan dan perladangan beberapa penduduk. Lahan persawahan dan perladangan itu umumnya dipusatkan di sepanjang tepi Sungai Karang Mumus dan sungai Karang Asam.

Berdirinya kota Samarinda tidak terlepas dari hijrah orang-orang Bugis Wajo, Sulawesi Selatan. Merekalah yang membangun Samarinda. Menurut lontara atau silsilah kedatangan suku Bugis menyebar ke seluruh Nusantara bermula pada tahun 1668.

Penyebaran itu terjadi karena kerusuhan di Kerajaan Bone Sulawesi Selatan pada tahun 1665. Ketika itu diadakan perhelatan besar pernikahan putra Goa dengan putri Bone. Kemudian terjadi perkelahian antara putra-putra Bone dan putra-putra bangsawan Wajo karena acara sabung ayam. Saat itu putra bangsawan Bone tewas tertikam keris sakti putra Wajo.


Asal Muasal Kota Samarinda
Perjanjian Bongaya
Pada saat pecah perang Gowa, pasukan Belanda di bawah Laksamana Speelman memimpin angkatan laut Kompeni menyerang Makassar dari laut, sedangkan Arung Palakka yang mendapat bantuan dari Belanda karena ingin melepaskan Bone dari penjajahan Sultan Hasanuddin (raja Gowa) menyerang dari daratan. Akhirnya Kerajaan Gowa dapat dikalahkan dan Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667.

Kedatangan orang Bugis ke Kesultanan Kutai
Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja tersebut, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya di antaranya ada yang hijrah ke daerah Kesultanan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh La Mohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.

Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama di dalam menghadapi musuh.

Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan di dalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Rumah Rakit Yang Sama Rendah
Sekitar tahun 1668, Sultan yang dipertuan Kerajaan Kutai memerintahkan Pua Ado bersama pengikutnya yang asal tanah Sulawesi membuka perkampungan di Tanah Rendah. Pembukaan perkampungan ini dimaksud Sultan Kutai, sebagai daerah pertahanan dari serangan bajak laut asal Pilipina yang sering melakukan perampokan di berbagai daerah pantai wilayah kerajaan Kutai Kartanegara. Selain itu, Sultan yang dikenal bijaksana ini memang bermaksud memberikan tempat bagi masyarakat Bugis yang mencari suaka ke Kutai akibat peperangan di daerah asal mereka. Perkampungan tersebut oleh Sultan Kutai diberi nama Sama Rendah. Nama ini tentunya bukan asal sebut. Sama Rendah dimaksudkan agar semua penduduk, baik asli maupun pendatang, berderajat sama. Tidak ada perbedaan antara orang Bugis, Kutai, Banjar dan suku lainnya.

Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua "sama" derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak dan di kiri kanan sungai daratan atau "rendah". Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan Samarenda atau lama-kelamaan ejaan Samarinda. Istilah atau nama itu memang sesuai dengan keadaan lahan atau lokasi yang terdiri atas dataran rendah dan daerah persawahan yang subur.

Penduduk menerima bagian lahan yang sama-sama rendah sehingga wilayah itu dinamakan "sama rendah". Akhirnya daerah itu disebut Samarinda. Penduduk Samarinda setiap tahun bertambah karena orang-orang Wajo berdatangan dan menetap di sana.

Berhadapan dengan daerah pemukiman baru ini, di tepi kanan Sungai Mahakam berkembang pula pemukiman di sekitar sungai Karang Mumus dan Karang Asam. Pemukiman ini dibangun para petani dan nelayan suku Kutai dan suku Banjar, pendatang dari Kalimantan Selatan.

La Mohang Daeng Mangkona mulai membangun daerah baru itu dengan bantuan seluruh pengikutnya. Hutan belantara ditebas dan kayu-kayu besar ditebang. Setelah lahan terbuka dan pohon-pohon kering dibakar terbukalah daerah persawahan yang luas di tanah datar dan rendah tanpa bukit-bukit. Air tadah hujan menggenangi lahan yang pada saatnya ditanami bibit padi sawah.
Rumah-rumah didirikan di tepi Sungai Mahakam, membujur dari hilir ke hulu. Setiap keluarga mendirikan tumah tinggal yang dikerjakan secara gotong-royong. Dengan sistem gotong-royong semua pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik.

Pua Ado diberi gelar Panglima Sepangan Pantai. Ia bertanggungjawab terhadap keamanan rakyat dan kampung-kampung sekitar sampai ke bagian Muara Badak, Muara Pantuan dan sekitarnya. Keputusan sidang kerajaan membuka Desa Sama Rendah memang jitu. Sejak saat itu, keamanan di sepanjang pantai dan jalur Mahakam menjadi kondusif. Tidak ada lagi bajak laut yang berani beraksi. Dengan demikian, kapal-kapal dagang yang berlayar, baik dari Jawa maupun daerah lainnya bisa dengan aman memasuki Mahakam. Termasuk kapal-kapal pedagang Belanda dan Inggris. Mereka berlayar hingga ke pusat Kerajaan, di Tepian Pandan. Dengan demikian roda pemerintahan berjalan dengan baik serta kesejahteraan masyarakat menjadi meningkat.

Sejak kedatangan bangsa Belanda yang memerintah di Indonesia sebagai penjajah, daerah ini dibangun menjadi pusat pemerintahan di Kalimantan Timur, wilayah antara Karang Mumus dan Karang Asam.
Bangsa Jepang datang ke Samarinda pada tanggal 3 Februari 1942 setelah menguasai Tarakan dan Balikpapan. Sesampainya di Samarinda, pada tanggal 5 Februari 1942, tentara Jepang melanjutkan penyerbuaannya ke Lapangan Terbang Samarinda II yang waktu itu masih dikuasai oleh Tentara Hindia Belanda (KNIL). Dengan berhasil direbutnya lapangan terbang itu, dengan mudah pula Banjarmasin diduduki oleh tentara Jepang pada tanggal 10 Februari 1942.

Samarinda Seberang
Sejarah terbukanya sebuah kampung yang menjadi kota besar, dikutip dari buku berbahasa Belanda dengan judul “Geschiedenis van Indonesie“ karangan de Graaf. Buku yang diterbitkan NV.Uitg.W.V.Hoeve, Den Haag, tahun 1949 ini juga menceritakan keberadaan Kota Samarinda yang diawali pembukaan perkampungan di Samarinda Seberang yang dipimpin oleh Pua Ado. Belanda yang mengikat perjanjian dengan kesultanan Kutai kian lama kian bertumbuh. Bahkan, secara perlahan Belanda menguasai perekonomian di daerah ini. Untuk mengembangkan kegiatan perdagangannya, maka Belanda membuka perkampungan di Samarinda Seberang pada tahun 1730 atau 62 tahun setelah Pua Ado membangun Samarinda Seberang. Di situlah Belanda memusatkan perdagangannya.

Namun demikian, pembangunan Samarinda Seberang oleh Belanda juga atas izin dari Sultan Kutai, mengingat kepentingan ekonomi dan pertahanan masyarakat di daerah tersebut. Apalagi, Belanda pada waktu itu juga menempatkan pasukan perangnya di daerah ini sehingga sangat menjamin keamanan bagi Kerajaan Kutai.

Samarinda berkembang terus dengan bertambahnya penduduk yang datang dari Jawa dan Sulawesi dalam kurun waku ratusan tahun. Bahkan sampai pada puncak kemerdekaan tahun 1945 hingga keruntuhan Orde Lama yang digantikan oleh Orde Baru, Samarinda terus ’disatroni’ pendatang dari luar Kaltim. Waktu itu Tahun 1966 adalah peralihan masa Orde Lama ke Orde Baru. Keadaan semuanya masih acak dan semberawut. Masalah keamanan rakyat memang terjamin dengan terbentuknya Hansip (Pertahanan Sipil) yang menggantikan OPR (Organisasi Pertahanan Rakyat). Hansip mendukung keberadaan Polisi dan TNI.

Kendati terbilang maju pada zamannya, perubahan signifikan Kota Samarinda dimulai ketika wali kota Kadrie Oening diangkat dan ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri dengan Surat Keputusan No. Pemda 7/ 67/14-239 tanggal 8 November 1967. Ia menggantikan Mayor Ngoedio yang kemudian bertugas sebagai pejabat tinggi pemerintahan Jawa Timur di Surabaya. Kotamadya Samarinda pada tahun 1950 terbagi tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda Ilir dan Samarinda Seberang. Luas wilayahnya saat itu hanya 167 km². Kemudian pada tahun 1960 wilayah Samarinda diperluas menjadi 2.727 km² meliputi daerah Kecamatan Palaran, Sanga-Sanga, Muara Jawa dan Samboja. Namun belakangan, kembali terjadi perubahan. Kota Samarinda hanya tinggal Kecamatan Palaran, Samarinda Seberang, Samarinda Ilir dan Samarinda Ulu.

Referensi
CBN Portal - Asal Usul Kota Samarinda (1). Diakses 28 Juli 2010
Situs Pemkot Samarinda (2008) - Sejarah
CBN Portal - asal Usul Kota Samarinda (2). Diakses 28 Juli 2010
Bongkar Online - Kenangan Tempoe Doeloe Kadrie Oening Patut Diteladani
Poesponegoro. Marwati Djoened, Notosusanto. Nugroho, (1992), Sejarah nasional Indonesia: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia, PT Balai Pustaka, Hlm. 3, ISBN 978-979-407-412-1.

Jumat, 15 Februari 2013

Lahirnya Aji Batara Agung Dewa Sakti (Raja Kutai Kartanegara Pertama)

Tersebutlah didalam hikayat kutai,bahwasanya petinggi jaitam layar dengan istrunya tinggal disebuah gunung,ditempat mana mereka membuka sebuah kebun untuk keperluan hidupnya sehari hari,puluhan tahun mrk hidup sebagai suami istri,namun dewa di kayangan belum juga menganugerahkan seorang anak pun sebagai penyambung dari keturunan mereka untuk memerintahkan negeri jaitan layar ini,sering petinggi jaitan layar bertapa bersama istrinya,menjauhi kerabat dan rakyatnya,memohon kepada dewata untuk mendapatkan anak. | pada suatu malam,ketika mereka sedang tidur dengan nyenyaknya,terdengar suara diluar yang begitu gegap gempita hingga menyentakkan dari tidur di peraduan,mereka pun bangkit membuka pintu untuk melihat apa gerangan yang terjadi di luar rumah..nampaklah oleh mereka sebuah batu besar yang melayang dari udara menghempas ketanah, suasana malam yang tadinya gelap gulita kini menjadi terang benderang seakan akan bulan purnama sedang memancar. terkejut melihat batu dan alam yang terang benderamg itu, petinggi beserta istrinya segera masuk kembali kedalam rumah serta menguncinya dari dalam,dari dalam rumah,mereka mendengar ada suara yang menyarunya..”sambut mati babu. tiada sambut mati mama” sampai tiga kali suara ini didengar oleh petinggi jaitan layar,dan ahirnya dengan rasa cemas dijawabnya juga..”ulur mati lumus, tiada diulur mati lumus”  “..sambut mati babu, tiada di sambut mati mama..”kembali suara itu terdengar. “ulur mati lumus,tiada diulur mati lumus..jawab si petinggi dan terdengarlah gelak tawa dari luar rumah sambil berkata..”barulah ada jawaban dari tutur kita, mereka yang diluar rumah itu agaknya sangat gembira sekali,karena tutur katanya mendapatkan jawaban. petinggi jaitan layar pun tidak merasa takut lagi dan kemudian keluar bersama istrinya mendatangi batu itu yang ternyata adalah sebuah raga emas, raga emas itu lalu dibuka dan betapa terkejutnya petinggi beserta istrinya tatkala melihat didalam nya terdapat seorang bayi yang diselimuti lampin berwarna kuning,tanganya sebelah memegang sebuah telur ayam,sedang tangan lainya memegang keris dari emas,keris mana merupakan kalang kepalanya. pada saat itu,menjelmalah tujuh orang dewa yg telah menjatuhkan raga emas itu,mereka mendekati petinggi jahitan layar dengan muka yang gembira,memberi salam..dan salah seorang dewa itu menyapa petinggi..”berterima kasihlah kepada dewata ,karena doamu dikabulkan untuk mendapatkan anak,meskipun tidak melalui rahim istrimu..bayi ini adalah turunan dewa dewa,karena itu jangan ia dipelihara seperti anak manusia biasa..” dewa juga berpesan agar bayi keturunan dewa ini jangan diletakkan di sembarang tikar,tetapi selama 40 hari 40 malam..bayi ini harus dipangku berganti ganti oleh para kerabat petinggi..dan bilamana engkau memandikan anak ini,maka jangan lah dengan air biasa,alkan tetapi dengan air yg sudah diberi bunga wangi..” dan bilamana anakmu sudah besar..janganlah ia menginjak tanah,setelah di adakan erau {pesta} dimana pada waktu itu kaki anakmu ini harus diinjakkan pada kepala manusia yang sudah mati,selai itu kaki anakmu ini diinjakkan pula pada kepala kerbau hidup dan kerbau mati..demikian pula bilamana anakmu ini untuk pertama kalinya ingin mandi ketepian,maka hendakklah engkau terlebih dahulu adakan upacara erau sebagai mana upacara pada pijak tanah..” setelah pesan tersebut di dampaikan..oleh salah seorang dewa,maka ketujuh  dewata itu naik kembali kelangit,petinggi dan istriya dengan penuh rasa bahagia membawa bayi itu masuk kerumah,bayi ini bercahaya laksana bulan purnama wajahnya,indah tiada tandiinganya..siapa memandang akan bangkit kasih sayang terhadap bayi ini..akan tetapi istri petingi susah hatinya,karena payudaranya tidak dapat meneteskan air susu,apa yang bisa diharapkan nya lagi dari seorang perempuan yg sudah tua untuk menyusui anaknya..?  ahirnya petinggi jaitan layar memakar dupa dan setanggi serta menghamburkan beras kunig sambil memanjatkan doa kepada dewa agar memberikan karunia kepada istrinya supaya tetekya bisa mengaandung airsusu yg wangi..setewlah selesai berdoa,terdengar suara dari langit..” wahai nyai jaitan layar..usap usaplah tetekmu dg tangan berulang ulang hingga terpancar air susu dari tetekmu ” mendengar perintah ini,isteri petinggi jaitan layar segera mengusap usap teteknyas sebelah kanan,dan pada waktu sampai 3x dia berbuat demikian..tiba tiba keluarlah air susu dengan derasnya,lagi wangi baunya..maka bayi itu pun mulai dapat diberikan air susu dari tetek isterinyha,kedua suami istri itu sangat bahagia melihat bagaimana anak keturunan dewa mulai bisa menyusu.. sesudah 3 hari 3 malam,tanggalah tali pusar dari bayi itu,maka semua penduduk jaitan layar pun bergembira..meriam “sapu jagag” di tembakkan sebanyak 7x selama 40 hari 40 malam ,dan bayi itu di pangku silih berganti dan dipelihara secermat cermatnya..selama itu juga telor yg sudah menetas menjadi seekor ayam jago makin besar dg suara kokoknya yg lantang.. sesuai dg petunjuk para dewa,maka anak tersebut di namakan aji batara agung dewa sakti,pada waktu batara agung berumur 5 tahun,maka sukarlah dia ditahan untuk bermain didalam rumah saja,ingin dia bermain di halaman ,di alam bebas dimana dia dapat berlari larian,berkejar kejaran dan mandi di tepian..maka petingi jahitan pun mempersiapkan upacara pijak tanah,dan upacara erau,mengantarkarkan sang anak mandi ke tepian untuk pertama kalinya,40 hari 40 malam di adakan pesta..dimana disediakan makanan dan minuman untuk penduduk,gamelan gajah perwata ditabuh siang dan malam,membuat suasana bertambah meriah,berbagai ragam ketangkasan dipertunjukkan silih berganti.. sesudah erau di laksanakan 40 hari 40 malam,maka bermacan binatang baik betina maupun jantan disembelih,,disamping itu juga petinggi  jahitan layar tidak melupakan pesan dari dewa,yaitu agar memmbunuh beberapa orang baik laki laki ataupun perempuan untuk diinjak kepalanya oleh batara agung pada upacara pijak tanah.. kepala kepala binatang dan manusia itu di selimuti dg kain kuning,aji batara agung dewa sakti di arak dan kemudian kaki nya dipijakkan kepada kepala 2 binatang dan manusia itu… kemudian aji batara diselimuti dg kain kuning,lalu di arak ke tepian sungai,di tepian sungai aji batara agung di mandikan,dimana kakinya dipijakkan bertutrut turut pada besi dan batu,semua penduduk jaitan layar kemudian ikut mandi..baik wanita maupun laki2 baik tua maupun yg muda.. setelah selesai upacara mandi,maka halayak mambawa kembali aji batara agung kerumah orang tuanya,dimana dia diberi pakaian kebesaran,,kemudian dia di bawa ke halaman kembali dg dilindungi payung agung,diiringi dg lagu gamelan gajah perwata dan bunyi meriam sapu jagad… tiba tiba guntur berbunyi dg dahsyatnya..menggoncangkan  bumi,dan hujan panas turun merintik,namun keadaan demikian tidak berlangsung lama,karena kemudian cahaya cerah kembali datang menimpa alam,awan dilangit bergulunu gulung seakan akan memayungi penduduk yg sedang mengadakan upacara bumi.. penduduk jaitan layar kemudian membuka hamparan dan kasur agung,dimana aji batara agung di suruh berbaring..upacara selanjutnya ialah gigi aji batara agung di asah kemudian disuruh makan sirih,  sesudash upacara selesai..maka pesta pun di mulai dg mngadakan makan dan minim kpd penduduk,bermacam macam permainan ditunjukan,lelaki dan perempuan menari silihberganti..jg tdk ketinggalan di adakan adu binatang,keremaian ini berlaku selama 7 hari 7 malam,dg tdk putus putusnya..bilamana selesai keramaian ini,maka segala bekas balai balai yg digunakan  untuk pesta dibagi bagikan oleh petinggi jaitan layar kpd penduduk miskin,demikian pula semua hiasan rumah,oleh nyai jahitan layar dibagi bagikan pula pada rakyat..dg selesainya pesta ini,semua pamit  kpd petinggi dan kpd aji batara agung sakti,mrk memuji muji  batara agung dg kata kata..selesai pesta ini,maka kehidupan di negri panjaitan layar berjalan seperti biasa kembali,msng msng pnddk mlksnkn pekerjaan sehari hari,mencari nafkah  dg aman..smntara aji batara agung dewa sakti makin hari makin dewasa,makin gagah,tampan berwibawa,kelak akan menjadi raja pertama dari kerajaan kutai kartanegara 

mitilogi kutai,cerita ini di ambil dari halaman kutai kartanegara.com

Legenda Naga Erau dan Putri Karang Melenu

Pada zaman dahulu kala di kampung Melanti, Hulu Dusun, berdiamlah sepasang suami istri yakni Petinggi Hulu Dusun dan istrinya yang bernama Babu Jaruma. Usia mereka sudah cukup lanjut dan mereka belum juga mendapatkan keturunan. Mereka selalu memohon kepada Dewata agar dikaruniai seorang anak sebagai penerus keturunannya.

Suatu hari, keadaan alam menjadi sangat buruk. Hujan turun dengan sangat lebat selama tujuh hari tujuh malam. Petir menyambar silih berganti diiringi gemuruh guntur dan tiupan angin yang cukup kencang. Tak seorang pun penduduk Hulu Dusun yang berani keluar rumah, termasuk Petinggi Hulu Dusun dan istrinya.
Pada hari yang ketujuh, persediaan kayu bakar untuk keperluan memasak keluarga ini sudah habis. Untuk keluar rumah mereka tak berani karena cuaca yang sangat buruk. Akhirnya Petinggi memutuskan untuk mengambil salah satu kasau atap rumahnya untuk dijadikan kayu bakar.

Ketika Petinggi Hulu Dusun membelah kayu kasau, alangkah terkejutnya ia ketika melihat seekor ulat kecil sedang melingkar dan memandang kearahnya dengan matanya yang halus, seakan-akan minta dikasihani dan dipelihara. Pada saat ulat itu diambil Petinggi, keajaiban alam pun terjadi. Hujan yang tadinya lebat disertai guntur dan petir selama tujuh hari tujuh malam, seketika itu juga menjadi reda. Hari kembali cerah seperti sedia kala, dan sang surya pun telah menampakkan dirinya dibalik iringan awan putih. Seluruh penduduk Hulu Dusun bersyukur dan gembira atas perubahan cuaca ini.

Ulat kecil tadi dipelihara dengan baik oleh keluarga Petinggi Hulu Dusun. Babu Jaruma sangat rajin merawat dan memberikan makanan berupa daun-daun segar kepada ulat itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, ulat itu membesar dengan cepat dan ternyata ia adalah seekor naga.
Suatu malam, Petinggi Hulu Dusun bermimpi bertemu seorang putri yang cantik jelita yang merupakan penjelmaan dari naga tersebut.

"Ayah dan bunda tak usah takut dengan ananda." kata sang putri, "Meskipun ananda sudah besar dan menakutkan orang di desa ini, izinkanlah ananda untuk pergi. Dan buatkanlah sebuah tangga agar dapat meluncur ke bawah."

Pagi harinya, Petinggi Hulu Dusun menceritakan mimpinya kepada sang istri. Mereka berdua lalu membuatkan sebuah tangga yang terbuat dari bambu. Ketika naga itu bergerak hendak turun, ia berkata dan suaranya persis seperti suara putri yang didengar dalam mimpi Petinggi semalam. 

"Bilamana ananda telah turun ke tanah, maka hendaknya ayah dan bunda mengikuti kemana saja ananda merayap. Disamping itu ananda minta agar ayahanda membakar wijen hitam serta taburi tubuh ananda dengan beras kuning. Jika ananda merayap sampai ke sungai dan telah masuk kedalam air, maka iringilah buih yang muncul di permukaan sungai."

Sang naga pun merayap menuruni tangga itu sampai ke tanah dan selanjutnya menuju ke sungai dengan diiringi oleh Petinggi dan isterinya. Setelah sampai di sungai, berenanglah sang naga berturut-turut 7 kali ke hulu dan 7 kali ke hilir dan kemudian berenang ke Tepian Batu. Di Tepian Batu, sang naga berenang ke kiri 3 kali dan ke kanan 3 kali dan akhirnya ia menyelam.

Di saat sang naga menyelam, timbullah angin topan yang dahsyat, air bergelombang, hujan, guntur dan petir bersahut-sahutan. Perahu yang ditumpangi petinggi pun didayung ke tepian. Kemudian seketika keadaan menjadi tenang kembali, matahari muncul kembali dengan disertai hujan rintik-rintik. Petinggi dan isterinya menjadi heran. Mereka mengamati permukaan sungai Mahakam, mencari-cari dimana sang naga berada.

Tiba-tiba mereka melihat permukaan sungai Mahakam dipenuhi dengan buih. Pelangi menumpukkan warna-warninya ke tempat buih yang meninggi di permukaan air tersebut. Babu Jaruma melihat seperti ada kumala yang bercahaya berkilau-kilauan. Mereka pun mendekati gelembung buih yang bercahaya tadi, dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat di gelembung buih itu terdapat seorang bayi perempuan sedang terbaring didalam sebuah gong. Gong itu kemudian meninggi dan tampaklah naga yang menghilang tadi sedang menjunjung gong tersebut. Semakin gong dan naga tadi meninggi naik ke atas permukaan air, nampaklah oleh mereka binatang aneh sedang menjunjung sang naga dan gong tersebut. Petinggi dan istrinya ketakutan melihat kemunculan binatang aneh yang tak lain adalah Lembu Swana, dengan segera petinggi mendayung perahunya ke tepian batu. 

Tak lama kemudian, perlahan-lahan Lembu Swana dan sang naga tenggelam ke dalam sungai, hingga akhirnya yang tertinggal hanyalah gong yang berisi bayi dari khayangan itu. Gong dan bayi itu segera diambil oleh Babu Jaruma dan dibawanya pulang. Petinggi dan istrinya sangat bahagia mendapat karunia berupa seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Bayi itu lalu dipelihara mereka, dan sesuai dengan mimpi yang ditujukan kepada mereka maka bayi itu diberi nama Puteri Karang Melenu. Bayi perempuan inilah kelak akan menjadi istri raja Kutai Kartanegara yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti.
Demikianlah mitologi Kutai mengenai asal mula Naga Erau yang menghantarkan Putri Junjung Buih atau Putri Karang Melenu, ibu suri dari raja-raja Kutai Kartanegara.


Senin, 12 April 2010

Sejah Tinta


Tinta Itu Apa?

Tinta merupakan sebuah media yang sangat kompleks, berisikan pelarut, pigmen, celupan, resin dan pelumas, sollubilizer (semacam senyawa yang membentuk ion-ion polimer polar dengan resin tahan air), surfaktan (yaitu unsur basah yang menurunkan tekanan permukaan dari sebuah cairan, memungkinkan penyebaran yang mudah, surfaktan juga menurunkan tekanan antar permukaan antara dua cairan), materi-materi partikuler, pemijar, dan material-material lainnya. Komponen-komponen tinta tersebut menjalankan banyak fungsi: pembawa tinta, pewarna, dan dan bahan-bahan adiktif lainnya digunakan untuk mengatur aliran, ketebalan dan rupa tinta ketika kering.bahan

Kurang lebih 5000 tahun yg lalu, sebuah tinta untuk menghitamkan permukaan yang timbul dari sebuah gambar dan tulisan-tulisan yang terpahat di batu dikembangkan di China. Tinta permulaan ini merupakan campuran antara jelaga dari asap kayu cemara, lampu minyak dan jelatin dari kulit binatang serta darah yang dibekukan.

Tinta yang awal digunakan di india pada akhir abad keempat SM disebut masi, adalah campuran dari beberapa komponen kimia. Dokumen India yang tertulis dengan tinta pada Kharosthi (sejenis naskah kuno India) telah tergali di Turkistan Cina (sekarang Xinjiang). Praktek penulisan dengan tinta dan ujung yg lancip telah umum digunakan di India selatan. Beberapa jain sutra (naskah religi india kuno) India disusun dengan tinta. Di India, karbon hitam yg merupakan asal diproduksinya tinta India dihasilkan dari pembakaran tulang, aspal, pitch, dan substansi-substansi lainnya.


Pada romawi kuno, atramentum lah yg dipergunakan. Di sebuah artikel pada Chirtisn science Monitor, Sharon J. Hutington menjealskan sejarah tinta lainnya: “Sekitar 1.600 tahun lalu, resep tinta yg terkenal dibuat. Resep itu digunakan selama beberapa abad. ‘garam” besi, seperti asam fero (terbuat dari beri yg dilumuri dengan asam sulfur), dicampur dengan tannin dari galnut (mereka tumbuh di pepohonan) dan sebuah penebal. Ketika pertama kali dicelupkan pada kertas, tinta ini akan berwarna hitam kebiru-biruan. Lama-kelamaan warna dari tinta ini akan menjadi coklat redup.


JENIS-JENIS TINTA

Bermacam jenis tinta terkini termasuk tinta Mesir, bermacam celupan natural yang terbuat dari bahan metal, kulit ataupun bagian luar yg menutupi kacang-kacangan atau bebijian, dan makhluk-makhluk laut seperti cumi-cumi (tinta dari bahan ikan cumi-cumi disebut sepia). Tinta India berwarna hitam dan berasal dari Asia. Tinta serpihan besi (tinta hitam keunguan yg terbuat dari besi dan tannin yg berasal dari sumber tetumbuhan) dulu digunakan oleh banyak pelukis kuno. Tinta walnut (sejenis buah kenari) diperkirakan juga pernah digunakan para pelukis kuno, meski tidak ada bukti tentang hal ini. Tinta walnut, jika ini pernah digunakan maka akan memburam dengan cepat dan karenanya tidaklah sesuai.

Tinta berpigmen

Tinta berpigmen berisi unsur-unsur lain yang memperkuat peresapan dari pigmen pada permukaan dan menghindarkan tinta dari terhapus oleh gesekan mekanis. Material-material ini biasanya berkaitan sebagai resin (dalam tinta berbahan celupan) atau unsur pengikat (dalam tinta berbahan dasar air).
Dikarenakan tinta berpigmen berada di permukaan kertas, tidak ada tinta yang diperlukan untuk membuat intensitas warna sebagaimana tinta berbasis pelarut. Tinta berpigmen juga ditengarai lebih tahan ketika tercuci, karenanya tinta-tinta jenis ini sangat disarankan untuk penggunaan permanen. Tinta-tinta jenis jel selalu tahan hapus dan seringkali sangat disarankan sekali bahkan oleh mereka yg biasa membuat pemalsuan dokumen.
Ukuran partikel dari pigmen adalah hal yang penting untuk keawetan dalam larutan tinta. Kualitas seperti corak, jenuh, terang atau cahaya merupakan bagian dari tinta, dan bervariasi tergantung asal dan jenis pigmen tersebut.

Celupan-celupan dalam tinta
Tinta berbasis celupan umumnya lebih kuat dari pada tinta berbasis pigmen dan dapat menghasilkan lebih banyak warna dari sebuah kepadatan yg dihasilkan per unit massa. Akan tetapi, dikarenakan celupan mudah larut dalam tahap cair, tinta-tinta ini memiliki kecenderungan membasahi kertas, jadi tidak efisien dan juga berpotensi melunturkan tepian-tepian sebuah gambar dan kurang berkualitas ketika tercetak.
Untuk menghindari masalah ini, tinta berbasis celupan ini dibuat dengan pelarut yang cepat kering atau digunakan metode pencetakan cepat kering, seperti menghembuskan udara panas begitu usai pencetakan.
Metode-metode lain termasuk pengeleman kertas dan pelapisan kertas secara khusus. Yang terakhir biasanya sesuai pada tinta yg digunakan di lingkungan non –industri (yang harus terkontrol emisi dan limbah racunnya), seperti tinta printer-printer inkjet. Teknik yang lain menyertakan pelapisan (coating) kertas dengan pelapisan yang terisi. Jika celupan mengandung isi yang berlawanan, maka tinta akan tertarik dan tertahan oleh lapisan ini, sementara zat pelarut membasahi kertas. Selulosa, materi bahan kertas, secara alami sudah terisi, dan sebuah komposisi yang memadukan antara celupan dan permukaan kertas, akan membantu daya simpan pada bagian permukaan. Seperti komposisi yang umum digunakan pada printing ink-jet yaitu polyvinyl pyrrolidone.

Keunggulan lain sistem tinta berbasis celupan adalah molekul celupan berinteraksi secara kimia dengan unsur-unsur tinta lainnya. Ini berarti bahwa tinta-tinta ini dapat lebih menguntungan dibanding tinta berpigmen dari pencahayan optikal dan unsur-unsur penguat warna yg dirancang untuk meningkatkan intensitas dan rupa celupan. Dikarenakan celupan mendapatkan warna dari interaksi elektron dalam molekul mereka, cara elektron bergerak diperkirakan oleh isi dan luas delokalisasi elektron dalam bahan tinta lainnya. Warna tinta muncul sebagai akibat dari energi cahaya yang jatuhpada celupan. Dengan demikian, jika sebuah pencahayaan optikal atau penguat warna menyerap energi cahaya dan memancarkannya melaui atau di dalam celupan, maka tampilan rupa akan berubah, sebagaimana berubahnya spektrum cahaya yang pantulkan kepada pencahayaan optikal atau penguat warna yang menyerapnya. Kelemahan dari tinta berbasis celupan adalah mudah pudar, khususnya ketika diekspos terhadap radiasi ultraviolet seperti pada cahaya matahari.
Sebuah pengembangan terkini terhadap tinta berbasis celupan adalah celupan yang bereaksi dengan selulosa untuk mewarnai kertas secara permanen. Tinta-tinta semacam itu tidak dpengaruhi oleh air, alkohol dan pelarut lainnya. Dengan demikian, penggunaan tinta-tinta berbasis celupan itu direkomendasikan untuk menghindarkan gambar menjadi gelap yang mendatangkan hilangnya signature seperti check washing adalah proses penghapusan secara detail sebuah cek agar memungkinkan penulisan ulang, biasanya untuk tujuan kejahatan seperti penarikan gelap dari sebuah rekening bank korban). Jenis tinta semacam ini sekarang lebih sering ditawarkan untuk penggunaan tinta-tinta cair. Pabrik paling terkenal pembuat tinta ini adalah Noodler.

SEJARAH TINTA
Kurang lebih 5000 tahun yg lalu, sebuah tinta untuk menghitamkan permukaan yang timbul dari sebuah gambar dan tulisan-tulisan yang terpahat di batu dikembangkan di China. Tinta permulaan ini merupakan campuran antara jelaga dari asap kayu cemara, lampu minyak dan jelatin dari kulit binatang serta darah yang dibekukan.

Tinta yang awal digunakan di india pada akhir abad keempat SM disebut masi, adalah campuran dari beberapa komponen kimia. Dokumen India yang tertulis dengan tinta pada Kharosthi (sejenis naskah kuno India) telah tergali di Turkistan Cina (sekarang Xinjiang). Praktek penulisan dengan tinta dan ujung yang lancip telah umum digunakan di India selatan. Beberapa jain sutra (naskah religi india kuno) India disusun dengan tinta. Di India, karbon hitam yg merupakan asal diproduksinya tinta India dihasilkan dari pembakaran tulang, aspal, pitch, dan substansi-substansi lainnya.

Pada romawi kuno, atramentum-lah yg dipergunakan. Di sebuah artikel pada Chirtisn science Monitor, Sharon J. Hutington menjelaskan sejarah tinta lainnya: “Sekitar 1.600 tahun lalu, resep tinta yang terkenal dibuat. Resep itu digunakan selama beberapa abad. ‘garam” besi, seperti asam fero (terbuat dari beri yg dilumuri dengan asam sulfur), dicampur dengan tannin dari galnut (mereka tumbuh di pepohonan) dan sebuah penebal. Ketika pertama kali dicelupkan pada kertas, tinta ini akan berwarna hitam kebiru-biruan. Lama-kelamaan warna dari tinta ini akan menjadi coklat redup.

PENGGUNAAN TINTA MODERN
Hingga beberapa tahun kemudian, para konsumen menaruh sedikit perhatian terhadap tinta daripada isi ulang untuk pena-pena mereka. Pena-pena cair menjadi hal yang baru sebagai mana pena ballpoint (pena berbola) yang mudah tersedia di pasaran. Pengenalan komputer-komputer rumahan mengarahkan kepada pencetakan rumahan. Hari ini, di beberapa negera berkembang, sangatlah jarang ditemukan tempat atau bisnis yang tidak mempunyai printer.
Sebagai hasilnya, membeli tinta dalam bentuk cartridge (tangki tinta) sekali lagi menjadi bagian dari hari-hari pengalaman belanja, sepertimembeli botol tinta lima puluh tahun yang silam.
Tempat-tempat Refill (isi ulang) tinta untuk cartridge tinta ada di mana-mana, perusahaan percetakan resmi juga demikian. Para pelanggan dapat mengurangi biaya pencetakan dengan mengunakan jasa isi ulang dari sebuah perusahaan refill, atau membeli produk OEM (sertaan pabrik) daripada mengisi ulang.

ASPEK KESEHATAN
Ada sebuah kesalahpahaman bahwa tinta tidaklah membahayakn meski tertelan. Sekali terminum tinta dapat membayakan kesehatan seseorang. Beberapa tinta, seperti yag digunakan di printer-printer, bahkan yang berada di pena-pena kita dapat berbahaya. Meksi tak menyebabkan kematian, kontak yang salah dapat menyebabkan efek seperti sakit kepala luar biasa, iritasi kulit, dan kerusakan sistem syaraf. Efek-efek ini dapat disebabkan oleh larutan atau pigmen utama seperti p-Anisidine, yang digunakan dalam proses pembuatan warna dan cahaya tinta. Pusat Pengendalian Racun menyatakan bahwa konsumsi tinta berapapun mesti dilaporkan ke rumah sakit terdekat atau pusat kendali racun.
———————————————————-
sumber: ink, en..wikipedia.org.


Sejarah Kertas


Kertas itu Apa?
Kertas adalah bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa.

Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis, mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya kertas pembersih (tissue) yang digunakan untuk hidangan, kebersihan ataupun toilet.
Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. Sebelum ditemukan kertas, bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah lempung yang dibakar. Hal ini bisa dijumpai dari peradaban bangsa Sumeria, Prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang, sutra, bahkan daun lontar yang dirangkai seperti dijumpai pada naskah naskah Nusantara beberapa abad lampau.

Sejarah Kertas

Kertas pertama kali diciptakan oleh bangsa Cina. Tsai Lun adalah orang yang menemukan kertas yang dibuat dari bahan bambu yang mudah didapatkan di Cina pada tahun 101 Masehi. Penemuan ini kemudian menyebar ke Jepang dan Korea seiring dengan menyebarnya bangsa Cina ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu, walaupun sebenarnya cara pembuatan kertas pada awalnya merupakan hal yang sangat dirahasiakan.

Teknik pembuatan kertas jatuh ke tangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam Pertempuran Sungai Talas pada tahun 751 Masehi. Para tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang arab, sehingga kemudian muncullah industri-industri kertas disana.


Teknik pembuatan kertas kemudian juga menyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah Perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan Spanyol dan ke seluruh dunia.

Peradaban Mesir Kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis. Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir Kuno pada masa wangsa firaun kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut TengahEropa, meskipun penggunaan papirus masih dirasakan sangat mahal. Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris, papierbahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas. dan menyebar ke seantero dalam 

Tercatat dalam sejarah adalah peradaban Cina yang menyumbangkan kertas bagi Dunia. Adalah Tsai Lun yang menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seantero China pada tahun 101 Masehi. Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa China ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia.

Pada akhirnya, teknik pembuatan kertas tersebut jatuh ketangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam Pertempuran Sungai Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang Arab sehingga pada zaman Abbasiyah, muncullah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya, kemudian menyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah Perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia
Teknik Pembuatan Kertas

Di tahun 1799, seorang Prancis bernama Nicholas Louis Robert menemukan proses untuk membuat lembaran-lembaran kertas dalam satu wire screen yang bergerak, dengan melalui perbaikan-perbaikan alat ini kini dikenal sebagai mesin Fourdrinier. Penemuan mesin silinder oleh John Dickinson di tahun 1809 telah menyebabkan meningkatnya penggunaan mesin Fourdrinier dalam pembuatan kertas-kertas tipis. Tahun 1826, steam cylinder untuk pertama kalinya digunakan dalam pengeringan dan pada tahun 1927 Amerika Serikat mulai menggunakan mesin Fourdrinier.

Peningkatan produksi oleh mesin Fourdrinier dan mesin silinder telah menyebabkan meningkatnya kebutuhan bahan baku kain bekas yang makin lama makin berkurang. Tahun 1814, Friedrich Gottlob Keller menemukan proses mekanik pembuatan pulp dari kayu, tapi kualitas kertas yang dihasilkan masih rendah. Sekitar tahun 1853-1854, Charles Watt dan Hugh Burgess mengembangkan pembuatan kertas dengan menggunakan proses soda. Tahun 1857, seorang kimiawan dari Amerika bernama Benjamin Chew Tilghman mendapatkan British Patent untuk proses sulfit. Pulp yang dihasilkan dari proses sulfit ini bagus dan siap diputihkan. Proses kraft dihasilkan dari eksperimen dasar oleh Carl Dahl pada tahun 1884 di Danzig. Proses ini biasa disebut proses sulfat, karena Na2SO4 digunakan sebagai make-up kimia untuk sisa larutan pemasak.

Sumber :Wikipedia.Ensiklopedia bebas - Ceritaanak.org